Dari Woloan Hingga Mendunia Rumah Panggung Minahasa

Rumah Panggung Minahasa 

Pembuatan rumah panggung Minahasa telah menjadi industri dan memberikan kehidupan bagi banyak orang di Desa Woloan. Industri yang melestarikan nilai tradisi.

Sebuah pemandangan unik bakal tersaji di jalan menuju Danau Linouw di Kabupaten Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut). Saat memasuki sepotong jalan beraspal mulus sekitar tiga kilometer menjelang danau vulkanik seluas 340 hektare itu, mata akan tertuju pada deretan rumah-rumah kayu dengan bentuk dan motif yang nyaris seragam. Rumah-rumah berkelir cokelat dan berbentuk panggung itu tak tampak dihuni manusia, meski dari luar tampilannya seperti rumah baru. Rupanya rumah panggung tadi tidak untuk ditempati melainkan untuk dijual.

Kawasan yang bernama Desa Woloan di Kecamatan Tomohon Barat ini, masyarakatnya dikenal sebagai perajin rumah panggung khas Minahasa. Suara raungan gergaji mesin ditingkahi ketukan pahat dan martil telah menjadi keseharian di desa ini. Begitu pula dengan pemandangan ratusan kayu balok aneka ukuran terhampar di tiap lahan kosong tak jauh dari rumah-rumah panggung yang sedang dikerjakan. Kayu merupakan bahan baku utama untuk pembuatan rumah panggung.

Rumah panggung berukuran lebih kecil dibandingkan dengan rumah panjang di Kalimantan. Mengingat rumah ini hanya dihuni oleh satu keluarga saja. Dalam buku Sejarah dan Kebudayaan Minahasa yang ditulis oleh Jessy Wenas, diceritakan bahwa dulu bangunan rumah adat Minahasa dibuat dengan teknik ikat, yaitu menempel pada pohon yang tinggi. Hal ini dilakukan untuk menghindari banjir dan gangguan binatang buas.

Kemudian, pada 1850 peneliti dari Belanda bernama WR Van Hoevell mencatat adanya perubahan yang terjadi pada rumah adat yang dipakai oleh suku Minahasa. Dari semula menempel pada pohon, kemudian berubah menjadi rumah panggung yang bertahan hingga kini. Dalam bahasa setempat, rumah panggung ini disebut sebagai wale meito'tol atau rumah berpilar balok kayu. Ada juga rumah berpilar batu atau disebut dengan wale weiwangin. Kedua jenis rumah panggung ini merupakan rumah adat suku Minahasa. 

Kayu yang dipakai untuk pembuatan rumah panggung adalah kayu besi (Instia bijuga). Kayu besi dipakai sebagai bahan utama struktur atau rangka rumah sedangkan kayu cempaka (Elmerrillia ovalis) dan kayu nyatoh (Palaquium spp) digunakan untuk melapisi interior atau bagian dalam rumah. Kayu besi dipilih karena tahan terhadap rayap dan memiliki sifat yang kokoh. Selain itu, kayu ini juga awet karena mampu menopang rumah hingga berusia ratusan tahun. Kayu besi umumnya dipasok dari hutan di daerah Bolaang Mongondow, Sulut.


SISTEM BONGKAR PASANG


Rumah panggung ini dibuat dengan sistem bongkar pasang atau rumah kayu sitem bongkar pasang knock-down. Artinya, setiap model rumah dapat dipereteli kembali setelah selesai dibuat. Ada berbagai tipe rumah panggung dibuat para perajin, mulai dari yang berukuran luas 36 meter persegi hingga 200 meter persegi sanggup mereka kerjakan. Para perajin pun dapat mengerjakan rumah panggung dengan bentuk serta ukuran sesuai keinginan si pembeli. Harga jual setiap rumah panggung berbeda-beda, mulai dari puluhan juta bahkan hingga miliaran rupiah.

Rumah panggung memiliki beberapa bagian. Pada ruang depan yang terbuka tanpa dinding disebut dengan loloan (fores). Masuk lebih ke dalam, akan ditemui beberapa ruangan, seperti ruang tamu dan kamar tidur. Ada juga loteng yang digunakan untuk menyimpan hasil panen atau juga digunakan sebagai tempat menjemur pakaian. Pada bagian belakang terdapat ruangan dapur (rarampoan). Dapur dibuat terpisah dari rumah induk untuk menghindari kebakaran.

Rumah panggung Minahasa mempunyai dua tangga, yaitu di bagian kiri dan kanan. Tiang utama rumah disebut dengan ari’i, yang pada bagian atasnya terdapat pintu masuk. Pada bagian badan rumah terdapat jendela (tetemboan) yang diukir hiasan berupa gambar bunga atau tanaman. Konstruksi tumpangan balok yang melintang di atas tumpangan balok memanjang disebut dengan kalawit. Sedangkan konstruksi berbentuk huruf X disebut sumpeleng. Konstruksi-konstruksi tersebut saling berkait dan membentuk pondasi rumah yang kokoh. Uniknya meski bagian-bagian konstruksi direkatkan tanpa menggunakan satu pun paku, saat terjadi gempa, rumah adat Minahasa hanya akan bergeser tanpa mengalami kerusakan pada bagian-bagiannya.

Keunikan bentuk dan coraknya membuat rumah panggung ini diminati banyak orang. Tak hanya menerima pesanan dari sekitar Tomohon, rumah-rumah panggung ini juga banyak diminati pembeli dari sekitar Sulawesi. Bahkan sudah menyebar hingga ke seluruh Nusantara. Tak hanya dipesan oleh pembeli perorangan, para pengelola resor atau villa juga tertarik membeli produk asli dari kawasan sejuk Tomohon ini. Pengiriman rumah bongkar pasang ini juga disertai para tukang kayu yang akan merangkai ulang rumah di lokasi akhir.

Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut, rumah unik ini sudah tersebar di lebih dari 30 negara. Para pembeli datang dari Asia Tenggara, Asia Timur, Eropa, serta Amerika Serikat. Ekspor juga dilakukan ke Tanzania, Australia, Selandia Baru, Maladewa, Argentina, dan Meksiko. “Rumah panggung Woloan diminati pasar ekspor karena memiliki karakteristik dan ciri khas yang berbeda. Apalagi materialnya berasal dari kayu tropis yang terkenal bagus dan kuat,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut Edwin Kindangen seperti dikutip dari Antara.


BAHAN BAKU BERKURANG


Begitu masifnya permintaan rumah panggung minimalis mengancam kelestarian bahan baku kayu besi, nyatoh, dan cempaka. Produksi rumah panggung dari Woloan telah dicoba dengan bahan baku kayu kelapa, akan tetapi kesulitan memasarkannya karena kurang diminati oleh konsumen. Oleh karena itu perlu adanya jenis-jenis kayu lain yang dapat menggantikan (substitusi) ketiga jenis kayu di atas. Tentunya, supaya industri rumah panggung knock-down di Desa Woloan tetap berjalan tanpa mengalami kesulitan pasokan bahan baku kayu.

Jenis kayu substitusi tersebut tentunya harus memiliki sifat-sifat yang relatif sama dengan ketiga jenis kayu sebelumnya terutama sifat fisik dan mekanisnya serta tetap diminati oleh konsumen. Menurut peneliti kehutanan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sentot Adi Sasmuko, penelitian sifat fisik dan mekanik beberapa jenis kayu pengganti bahan baku rumah panggung Woloan pernah dilakukan oleh Balai Penelitian Kehutanan Manado dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Bogor. Jenis kayu yang diteliti meliputi aliwowos, rorum, bugis, binuang, bolangitang, dan kenari yang berasal dari hutan di Bolaang Mongondow Utara.

Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa kayu aliwowos tergolong paling berat diikuti berturut-turut rorum, bugis, kenari, binuang, dan yang teringan adalah kayu bolangitang. Selain itu keenam jenis kayu tersebut tergolong mempunyai penyusutan yang relatif kecil atau stabil. Sementara itu berdasarkan nilai kerapatan, keteguhan lentur statis maksimum, keteguhan tekan sejajar serat dan keteguhan gesernya, maka kayu aliwowos tergolong kelas kuat I. Sedangkan kayu rorum dan bugis termasuk kelas kuat II. Kayu kenari termasuk kelas kuat III dan binuang dan bolangitang termasuk kelas kuat IV.

Berdasarkan sifat-sifatnya, maka keenam jenis kayu tadi dapat dimanfaatkan bagi keperluan bahan baku pengganti rumah panggung dari Woloan untuk menggantikan jenis-jenis kayu yang selama ini dipakai. Sehingga industri rumah kayu khas Tomohon dan Sulawesi Utara ini tetap lestari dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.


Penulis: Anton Setiawan

Editor: Eri Sutrisno/ Elvira Inda Sari

Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini


Sumber: 

https://indonesia.go.id/


Cermin Kebinekaan Indonesia - Toleransi Dari Kampung Tanjung

Kelenteng Kong Fuk Miau
Kelenteng Kong Fuk Miau dan Masjid Jami menjadi ikon simbol kerukunan paling nyata di Provinsi Bangka Belitung. Letak keduanya hanya dipisahkan oleh sebuah jalan kecil.

Jarum jam baru menunjuk pukul 15.10 WIB ketika Wili dan kawan-kawannya menyudahi untuk sementara latihan barongsai mereka di halaman Kelenteng Kong Fuk Miau di Kabupaten Bangka Barat. Jeda itu seiring berkumandang azan sebagai penanda masuknya waktu salat Asar dari pelantang di menara Masjid Jami yang bersebelahan lokasinya.  

Pemuda 22 tahun itu dan teman-temannya pun rehat sambil menyantap pelite, kue khas Bangka Barat. Pelite juga menjadi favorit Presiden RI Pertama Soekarno ketika diasingkan ke Pulau Bangka. Usai beristirahat 10 menit, mereka pun melanjutkan latihan barongsainya.

Itulah sekelumit wajah yang ditampilkan dua ikon cagar budaya di Provinsi Bangka Belitung, Kelenteng Kong Fuk Miau dan Masjid Jami. Kedua rumah ibadah itu letaknya begitu berdekatan, hanya dipisahkan oleh sebuah jalan kecil selebar 4 meter. Lokasi kedua bangunan simbol kerukunan masyarakat Bangka Barat ini berada di Jl Imam Bonjol nomor 1 Kampung Tanjung, Kecamatan Muntok, atau sekitar 1 kilometer dari Pelabuhan Muntok.

Toleransi kehidupan beragama semacam itu menjadi ciri khas bangsa Indonesia yang sudah dikenal luas bukan sebatas teori di atas kertas saja. Hal itu telah dipraktikkan di dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya sejak berabad silam. Tak terkecuali di Muntok, daerah penghasil timah dan lada putih (white pepper) terbaik di dunia sejak era kolonial Belanda.

Muntok dapat dicapai melalui jalur darat dari Pangkalpinang yang merupakan ibu kota Provinsi Bangka Belitung (Babel), selama hampir tiga jam atau sejauh sekitar 140 kilometer. Perjalanan menuju Muntok, ibu kota Bangka Barat, melewati jalan beraspal mulus dan naik-turun karena kontur daerahnya yang berbukit.

Seperti juga daerah lainnya di Bumi Serumpun Sebalai, Melayu dan Tionghoa menjadi dua etnis berpopulasi terbanyak di Muntok. Melayu berpopulasi sekitar 60 persen dari total penduduk Babel, sedangkan etnis Tionghoa mengisi 30 persen dan sisanya adalah Jawa, Sunda, Bugis, Batak, Minangkabau, dan suku lainnya. Namun mereka dipersatukan oleh filosofi lama berbahasa Mandarin yang dipertahankan sampai sekarang, yaitu fan ngin, to ngin, jit jong. Artinya, pribumi, Melayu, Tionghoa, dan semuanya sama serta setara.

KELENTENG KONG FUK MIAU


Orang-orang Tionghoa memasuki Muntok berbarengan dengan dibukanya kota di pesisir Bangka itu sebagai pusat perdagangan timah era 1721-1756. Menurut sejarawan setempat, Akhmad Elvian, dalam Kampoeng di Bangka, kehadiran etnis Tionghoa kian hari bertambah banyak, terlebih ketika Sultan Ahmad Najamuddin Adikusumo memerintah Kerajaan Sriwijaya pada 1757-1776. Sultan meyakini, orang-orang asal daratan Tiongkok dinilai lebih terampil dan sudah menguasai teknologi penambangan dan pengolahan timah.

Seiring waktu, orang-orang etnis Tionghoa asal Provinsi Guangdong, Tiongkok, yang berada sana memerlukan rumah ibadah untuk bersembahyang. Maka pada 1820, dimulailah pembangunan Kelenteng Kong Fuk Miau saat Dinasti Qing berkuasa di Tiongkok dan menjadi rumah ibadah pertama etnis Tionghoa di Muntok.

Dalam bahasa Hakka, kelenteng seluas 2.280 meter persegi dengan atap berbentuk pelana (saddleback-roof) itu dilafalkan sebagai Guang Fu Miao, ini merupakan gabungan dari kata Guang yang merujuk kepada Guangdong, Fu untuk daerah Fujian (Tiongkok). Sedangkan Miao berarti kuil peribadatan. Pada awalnya bangunan Kelenteng Kong Fuk Miau dibangun menggunakan kayu dan berlantai tanah. Terdapat dua pagoda bertingkat tujuh di sisi timur laut dan tenggara halaman depan kelenteng.

Seperti dikutip dari website Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangka Barat, bangunan kelenteng yang didominasi warna merah dan kuning serta menghadap ke arah timur ini berbentuk persegi panjang. Ukurannya yaitu panjang 13,7 meter dan lebar 24,6 meter serta tinggi 7,1 meter. Saat renovasi pertama pada Februari 1977, seluruh dinding kayu diganti menjadi tembok dan tiang beton. Lantainya pun diubah menjadi keramik supaya tidak mudah becek ketika terkena air hujan. 

MASJID JAMI


Sekitar empat meter di sisi kiri kelenteng terdapat Masjid Jami dan menjadi bangunan rumah ibadah umat Muslim tertua di Muntok. Pembangunannya terpaut 63 tahun lebih muda dari kelenteng atau sekitar 1883 atau bertepatan pada 19 Muharam 1300 Hijirah. Masjid berdiri di atas lahan wakaf milik tokoh masyarakat setempat, Tumenggung Arifin dan H Muhammad Nur seluas 7.500 meter.

Saat pembangunannya turut dibantu oleh masyarakat Tionghoa termasuk para saudagar mualaf, selain dari umat Muslim Muntok sendiri. Keterlibatan masyarakat Tionghoa dalam membangun masjid tak lepas dari peran Mayor Chung A Thiam yang turut memimpin pembangunan bersama tokoh Muslim setempat. Ia adalah petinggi militer yang diangkat kolonial Belanda untuk memimpin etnis Tionghoa di Muntok, dan kediamannya hanya berjarak 700 meter dari kedua rumah ibadah itu. Ia turut menyumbang empat tiang utama masjid yang terbuat dari kayu ulin (Eusideroxylon zwageri).

Pembangunan masjid berkelir hijau dan putih tersebut memakan waktu tiga tahun dan resmi dipakai untuk ibadah pada tahun 1887. Arsitektur Masjid Jami kental dengan nuansa Melayu, Tiongkok, dan Eropa. Tangga di sisi kiri dan kanan bagian depan masjid modelnya mirip seperti pada rumah-rumah etnis Melayu. Bagian atapnya terdapat pengaruh bangunan masjid kuno di tanah Jawa yang berbentuk limas. Sedangkan harmoni gaya Eropa terdapat pada model tiang penyangga, pintu, dan jendela masjid yang tinggi dan bukaan lebar.

Aroma Tionghoa diadopsi pada model menara segilima enam tingkat yang dibangun belakangan bersama bangunan pesantren dan gedung pertemuan. Sepintas bentuk menara ini makin mengecil pada puncaknya dengan atap sedikit melengkung dan mengingatkan kita dengan bentuk pagoda. Keunikan arsitekturnya membuat Proklamator Bung Karno saat diasingkan di Bukit Menumbing, yang jaraknya sekitar 20 menit, beberapa kali mampir untuk salat di Masjid Jami.

SIMBOL KERUKUNAN


Kelenteng Kong Fuk Miau dan Masjid Jami menjadi ikon simbol kerukunan paling nyata yang ada di Bangka Belitung. Demikian dituturkan oleh pengurus masjid, Ustaz Fahmi, dan Juru Pelihara Kelenteng Kong Fuk Kiong, Paularita. Jika ada kegiatan di masjid seperti pengajian dan salat tarawih yang berbenturan dengan jadwal perayaan di kelenteng, maka pengurus kelenteng bertoleransi. Misalnya, pembukaan perayaan sengaja meniadakan atraksi tari barongsai.

Ustaz Fahmi pun menyebut, volume pelantang masjid cenderung dikecilkan ketika digelar pengajian bersamaan di kelenteng sedang ada perayaan. "Kami selalu saling memberitahukan kegiatan di rumah ibadah masing-masing. Sebab, semua itu bisa dibicarakan dan dimusyawarahkan. Itu yang membuat kami dapat menjaga keharmonisan hubungan kedua agama," ucap Ustaz Fahmi.

Ketika pihak kecamatan menggelar kerja bakti membersihkan lingkungan, kedua pengurus rumah ibadah selalu diajak bertukar posisi membersihkan kawasan rumah ibadah. Pengurus kelenteng akan diarahkan membersihkan pekarangan Masjid Jami dan demikian sebaliknya. "Sejak dulu kami selalu rukun dan sudah tertanam dari nenek moyang kami. Kita tinggal meneruskan saja," kata Paularita.

Ustaz Fahmi, Paularita, serta Wili mewakili umatnya masing-masing, telah mengajarkan kepada kita sebuah kesadaran akan kebutuhan untuk saling menghargai antaretnis dan antarpemeluk agama. Modal toleransi itulah yang membuat Muntok tetap mampu merawat kebinekaannya sampai hari ini.

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari

Sumber 
https://indonesia.go.id/

Filosofi Unik Rumah Limas

Rumah Limas
Rumah Limas adalah rumah tradisional Provinsi Sumatera Selatan. Gaya Rumah Limas seperti model rumah panggung limas, memiliki lima tingkat yang berfilosofi dengan menyesuaikan geografi, dan kepercayaan masyarakat setempat.

RUMAH LIMAS

Sesuai dengan namanya, Rumah Limas adalah rumah tradisional berbentuk limas yang dibuat dengan gaya panggung. Bangunan khas daerah Palembang ini dibangun bertingkat. Kumpulan tingkat-tingkatnya disebut masyarakat sebagai Bengkalis yang memiliki makna tersendiri. Luasan Rumah Limas berkisar mulai dari 400 hingga 1000 meter persegi, sering kali dipinjamkan pemilik rumah untuk digunakan sebagai tempat pesta pernikahan dan acara adat.

Hampir seluruh bagian dari Rumah Limas terbentuk dari kayu. Pemilihan kayu dilakukan bukan tanpa sebab, namun menyesuaikan dengan karakter kayu dan kepercayaan masyarakat di Sumatera Selatan. Uniknya, jenis kayu-kayu yang digunakan merupakan kayu unggulan dan dikabarkan hanya tumbuh subur di daerah yang beribukota di Palembang.

Untuk bagian pondasi biasanya menggunakan kayu unglen, kayu yang berstruktur kuat dan tahan air. Sedangkan bagian kerangka rumah, digunakan kayu Seru. Kayu ini cukup langka dan sengaja tidak digunakan untuk bagian bawah rumah karena dalam kebudayaan masyarakat, kayu Seru dilarang untuk diinjak dan dilangkahi.

Khusus dinding, lantai, jendela, dan pintu menggunakan kayu Tembesu, yang mempunyai keunggulan dari segi ekologi dan ekonomi. Kentalnya budaya Sumatera Selatan bisa terlihat dari seni ukiran dan ornamen pintu, dinding, maupun atap Rumah Limas yang menggambarkan nilai-nilai kebudayaan setempat. 

TINGKATAN RUMAH LIMAS

Rumah Limas model rumah panggung minimalis memang mempunyai banyak filosofis yang mendalam, terdiri dari lima tingkat dengan makna dan fungsi yang berbeda-beda. Lima tingkatan ruangan diatur menggunakan filosofi Kekijing, dimana setiap ruangannya diatur berdasarkan penghuninya, yaitu usia, jenis kelamin,  bakat, pangkat, serta martabat.

Tingkat pertama atau disebut Pagar Tenggalung merupakan ruangan terhampar luas tanpa dinding pembatas. Ruangan seperti beranda ini difungsikan untuk tempat menerima para tamu yang datang pada saat acara adat. Uniknya, orang luar tidak bisa melihat aktivitas didalam ruangan. Sedangkan dari dalam bisa melihat suasana diluar. Hal menarik lainnya adalah lawang kipas atau pintu yang jika dibuka akan membentuk langit-langit ruangan.

Tingkat kedua atau disebut Jogan merupakan tempat berkumpul diperuntukkan bagi anggota keluarga pemilih rumah yang berjenis kelamin laki-laki. Masuk lebih dalam atau pada Kekijing ketiga, lebih memiliki privasi dibanding ruangan sebelumnya. Posisi lantainya lebih tinggi dan bersekat. Ruangan tingkat tiga ini hanya digunakan oleh tamu undangan khusus ketika pemilik rumah sedang mengadakan hajat.

Khusus orang yang dihormati dan memiliki ikatan darah dengan pemilih rumah, dipersilahkan untuk ke tingkat keempat. Seperti para Dapunto dan Datuk, tamu undangan yang dituakan. Terakhir, tingkat kelima atau disebut Gegajah memiliki ruangan paling luas dibanding ruangan lainnya. Ruangan ini lebih istimewa dan lebih bersifat privasi, hanya dimasuki oleh orang yang mempunyai kedudukan sangat tinggi dalam keluarga maupun masyarakat. Di dalamnya terdapat undukan lantai untuk bermusyawarah yang disebut Amben, dan kamar pengantin jika pemilik rumah mengadakan pernikahan.

Jika melihat bagian atas atap, terlihat ornamen simbar berbentuk tanduk dan melati. Selain sebagai ornamen, simbar ini berfunsi sebagai penangkal petir. Melati melambangkan keagungan dan kerukungan, simbar dua tanduk berarti Adam dan Hawa, tiga tanduk berarti matahari-bulan-bintang, empat tanduk berarti sahabat nabi, dan simbar dengan lima tanduk melambangkan rukun Islam.

Fakta menarik lainnya, Rumah Limas dibangun menghadap ke arah timur dan barat. Bagian yang mengarah ke barat disebut dengan Matoari Edop atau berarti matahari terbit yang melambangkan kehidupan baru. Sedangkan yang menghadap ke timur disebut dengan Matoari Mati yang berarti matahari terbenam atau melambangkan akhir dari kehidupan.

Kini, Rumah Limas memang sudah jarang dibangun sebagai tempat tinggal. Namun, bukan berarti sudah tidak ada lagi Rumah Limas. Setelah mengenal dan mengetahui fakta Rumah Limas, bagi pengunjung yang penasaran ingin melihat langsung rumah adat ini, bisa berkunjung ke Museum Balaputera Dewa di Jalan Srijaya Negara I, Kota Palembang. (K-MP)


Sumber 

https://indonesia.go.id/


Rumah Kayu Unik

Kerangka Rumah Kayu
Rumah Kayu Knock Down menjadi tren model rumah masa kini. Selain unik, jenis rumah knock down memiliki desain minimalis dan banyak digemari kolektor karena bahannya didominasi kayu. Bangunan ini juga mampu memberikan kesan menyatu dengan alam. Rumah kayu ini juga hangat dan memberikan kenyamanan bagi penghuninya. 

Harga rumah kayu relatif terjangkau, dan model desainnya juga layak menjadi prioritas para pecinta properti kayu di Indonesia. Selain berfungsi sebagai rumah tempat tinggal, rumah kayu mempunyai tekstur yang unik dan juga beragam jenis bentuk ukuran.

KONSTRUKSI RUMAH KAYU

Sistem Konstruksi Rumah Kayu Knock Down mempunyai banyak kelebihan dibandingkan pembuatan rumah kayu yang menekankan pada penggunaan paku. Kelebihan tersebut diantaranya adalah mudah dibongkar dan dipasang tanpa merusak struktur dan tekstur kayu. Prinsip utama dalam sistem bongkar pasang adalah standarisasi struktur dan detail sambungan serta tipe konstruksi yang sistematis.

Proses Fabrikasi
Konsep yang digunakan dalam pembuatannya, di klasifikasikan sebagai sistem koncian yang berupa Taktik, Tumpu, Tekan, Kait dan Tarik. Tehnik perakitan  inilah yang dipakai dalam membuat rumah knock down. Namun jangan salah, dengan menggunakan tehnik ini, alhasil rumah kayu sangat kuat dan kokoh. Wujudkan Impian Anda untuk memiliki hunian rumah kayu bersama kami. Harganya kompetitif, modelnya pun variatif dan juga berkualitas baik.

Material yang digunakan untuk membuat rumah kayu beraneka ragam tipe kayu. Namun kebanyakan bahan yang kerap digunakan adalah kayu Meranti Merah dan kayu Seru atau Puspa. Kedua bahan tersebut digabungkan dalam perakitannya. Kayu Seru atau kayu puspa untuk membuat kerangka rumah dan Kayu Meranti untuk membuat komponen bernilai, adalah Jendela, daun pintu, dinding, daun pintu, plafon hingga lis plang. 


Selain kedua bahan tersebut, ada pula bahan lain yang kerap digunakan. Contohnya adalah kayu merawan, kayu bambang, kayu kulim, kayu durian, kayu tembesu hingga kayu asli. tapi untuk kayu asli harganyanya sangat mahal di bandingkan kayu meranti atau kayu merawan.

Rumah Panggung
Bahan-Bahan kayu tersebut diolah dan di rakit dengan sistem knock down. akibatnya rumah tersebut simpel di bongkar pasang dan di pindah-pindah lokasi. Rumah ini, orang kerap menyebutnya dengan sebutan rumah kayu bongkar pasang. Sekejap tentang pengertian rumah sistem knock down versi saya, moga-moga profitabel.

Bagi Anda yang berkenan hendak membuat rumah kayu bongkar pasang, bisa menghubungi kami dengan telephone ataupun what's up di 0857-1791-2968. Anda juga dapat mengunjungi fabrikasi atau whork shop kami di Desa Tanjung Baru Petai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. 

Desain Rumah Panggung Minimlis dan Modern

Rumah panggung minimalis merupakan perpaduan antara desain rumah panggung tradisional dan gaya minimalis modern. Desain ini menawarkan kepua...